img source : Google Image

Waktu Kita Sudah Sampai Di Persimpangan

BY : KAMU

Sama halnya denganmu, akupun membenci mengapa pertemuan kita sangatlah singkat, mengapa pertemuan kita sangatlah telat, mengapa pertemuan kita harus dipisahkan dengan meninggalkan luka yang mendalam. Perpisahan kita bukanlah dikarenakan bosan satu sama lainnya, bukan karena perdebatan ketidakcocokkan, bukan juga karena salah satu di antara kita cuek dan satu yang lainnya merasa lelah. Melainkan karena aku, yang tak dapat melepaskan statusku sebagai seorang suami dari wanita lain, demi dirimu.

Mencintaimu tak pernah salah, aku tak pernah merasa menyesal telah menaruh hatiku padamu selama setahun lebih. Namun aku yang tak tau diri telah memalingkan pandanganku padamu, membuatmu tak bisa jauh dariku, dan membuat diri ini tak dapat memutar balik arah.

Aku sering menyakitimu, entah dari ucapan yang keluar dari mulutku atau perbuatan yang tak ku maksudkan untuk menyakitimu. Namun kau sepertinya tak lelah meladeni semua sikap bodohku. Sering ku berfikir bahwa kau terlalu baik bila hanya ku permainkan seperti ini, tak memberimu kesempatan untuk menatap masa depanmu sendiri, hanya karena aku tak mau menerima kau bersanding dengan pria lain. Akupun tak munafik, ingin memilikimu sepenuhnya tanpa ada satupun yang menggangu, akupun tak memungkiri bahwa aku ingin mengganti posisinya denganmu. Namun aku yang tak berani mengambil resiko itu, aku yang terlalu takut bila sampai meninggalkan putriku yang usianya masih terlalu kecil bila harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya ternyata berpisah sejak dia balita. Namun entah sampai kapan aku dapat menahan egoku bahwa aku ingin bersamamu.


i'm your baymax

Bayangan-bayangan tentangmu sering melintas saat aku melamun, atau sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Jalanan yang padat dengan kendaraan seperti mendukungku untuk melamunkanmu, yang seakan sengaja menyiksa bathinku. Karena yang ku fikirkan bukan tentang kebersamaan kita, melainkan aku yang harus rela kau tinggalkan. Bahkan di saat aku mencoba mengingat indahnya kebersamaan kita hanya untuk melupakan bayangan pahit itu, sakitku bertambah parah. Tak dapat ku bayangkan bila saja kita tak akan pernah lagi melakukan kebersamaan itu. Aku akan sangat kesepian bila memang harus kau tinggalkan, bathinku akan sangat menderita bila harus melihatmu dengan pria lain, dan tubuhku akan sangat tak bergairah bila tak ada tubuhmu memelukku.
Nantinya, di saat aku merindukanmu, mungkin kau sedang asyik bercengkrama dengan pacar barumu. Nantinya, di saat aku merindukanmu dan membuka galeri yang dimana ku selipkan fotomu, mungkin wallpaper di handphonemu sudah bukan lagi fotoku. Nantinya, di saat aku melihat statusmu yang ter-update di akun media sosialmu bahwa kau sedang terpuruk, bahuku tak lagi kau butuhkan. Dan nantinya, di saat aku ingin kembali padamu, mengulang semua kejadian demi kejadian yang pernah kita rangkai bersama, di saat itu pula, kau sudah menemukan kebahagiaanmu, bukan denganku.
Bisakah kita seperti ini saja? Tak ada perpisahan, tak ada air mata atas rasa kehilangan, tak ada rindu yang tak terbalas. Yang ada hanya kita yang bahagia, kita yang tak memikirkan sekitar, kita yang selalu membicarakan hal yang tak jelas namun tetap menarik untuk kita bahas, kita yang selalu mensupport satu sama lain, dan kita yang tak bosan-bosannya saling menatap ketika menjelang tidur.

Aku merindukanmu.

0 comments:

Post a Comment