img source : Google Image

SEMENJAK BERHUBUNGAN DENGANMU

BY : KAMU

Semenjak berhubungan denganmu, yang notabene adalah seorang pria yang sudah mempunyai istri. Aku tak lagi berkeinginan menjalin ikatan suci atau apapun itu yang katanya didambakan semua orang, dengan siapapun termasuk dirimu.
Aku sudah menonton film Thailand yang kau rekomendasikan, “One Day”. Tentang wanita yang bernasib sama denganku, mempunyai hubungan spesial dengan atasannya di kantor yang berstatus “suami orang”, yang status dari hubungan mereka terpaksa mereka sembunyikan dari teman-temannya bahkan dari keluarganya sendiri.

Jalan ceritanya seolah sengaja dibuat sama dengan kehidupanku oleh sang penulis cerita. Namun, ada yang berbeda. Wanita itu dijanjikan hal-hal manis yang entah dia tepati atau tidak. Sedangkan aku, jangankan kau tepati, rasanya aku tak pernah mendengar kau berjanji untuk meninggalkan dia. Hahaha sepertinya indah.

Mungkin karena kau sedari dulu tak pernah menjanjikan apa-apa padaku mengenai pernikahan, sehingga aku terbiasa bahkan tidak tertarik lagi untuk melakukan ritual itu. Disaat teman-teman sebayaku memberikan undangan perihal pernikahan mereka dengan pasangannya, aku tegaskan, aku-benar-benar-tidak-tertarik-dengan-pernikahan.
Mamaku sering kali menanyakan kapan pacarku datang ke rumah bersama orang tuanya dan berniat meminangku, dengan santai aku menjawab “Aku belum siap, Ma”. Tak jarang aku bergetar di saat Mama melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ku jawab, ingin sekali aku berteriak sambil menangis serta memeluk Mama, “Pacar dari anakmu ini tidak akan pernah datang ke rumah untuk melamar, bahkan tak jarang dia mematahkan harapanku saat aku meminta kepastian darinya, Ma. Jadi ku mohon berhenti menanyakan hal seperti itu karena akupun enggan bersangkutan dengan pernikahan”. Ah, terlalu berat untukku bila harus membuat bathin Mama sakit karena anak gadis terbesarnya menjadi simpanan suami orang. Lagi, lagi dan lagi ku urungkan niatku untuk mengatakan itu.

Tersadar, aku telah membuat sakit banyak pihak. Keluargaku, keluargamu, kau, dan diriku sendiri. Namun entah mengapa aku tak lagi memikirkan rasa sakit itu. Karena memang ku akui, bahagia bersamamu lebih banyak ku rasakan daripada sakit yang ku derita. Saat aku terluka hebat, kau dengan sigap mengulurkan tangan dan membuat semua seperti sedia kala.
“Bila bersamamu, aku seakan lupa bila aku sebenarnya sudah berkeluarga”. Katamu, saat kita bertengkar hebat hanya karena aku tak kuat bila harus melihat kau pulang, menemui dia. Saat aku melamunkanmu, sendirian terpojok di sudut kamarku, kamu sedang asyik bercengkrama dengan istri dan anakmu. Aku tak mengenal istrimu, bahkan melihat wajahnya saja aku tak pernah. Aku dan dia tak pernah ada kesempatan untuk bertemu. Tapi tak jelas alasannya kalau aku membencinya. Sangat. Dan sekarang, aku rasa aku tak ingin dan benar-benar tak ingin melihat wajahnya, aku yakin wajahnya tua dan menyebalkan.



Semua orang menginginkan perpisahan di antara kita, tanpa mereka fikir bahwa kita tak menginginkan mereka hadir untuk mencampuri urusan perasaan kita. Terkadang aku berfikir, apakah mereka akan melakukan hal yang sama bila ada di posisiku sekarang? Meninggalkan pasangan mereka yang sudah terlebih dahulu menikah dengan orang lain, yang saat ini menemani semua kegiatan dan keseharian mereka, yang memberikan mereka pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan, yang mengajari indahnya hidup dengan menjalani kehidupan yang lebih baik. Iya, itu alasanku tak mau melepaskan dia, pria yang setahun ini bersamaku menghabiskan waktu dari pagi bertemu dengan pagi lagi. Aku sangat mencintainya.
Meskipun sebenarnya kita ingin saling melepaskan tanpa adanya rasa ingin kembali lagi. Berulang kali mencoba meninggalkanmu dan berusaha dekat dengan pria lain, lagi dan lagi kau menarikku ke lubang hitammu, dan aku sadar saat itu, kita tak akan pernah bisa terlepas.

0 comments:

Post a Comment