12 01 17 - Perasaanmu ...

LUBANG HITAM (ku)

BY : KAMU

ZNMasalahnya begini, aku tidak bisa untuk ditinggalkan olehmu.
Aku terlanjur jatuh ke lubang hitammu, yang seakan-akan dengan sengaja kamu buat untuk menjeratku. Dan kamu, enggan untuk mengulurkan tangan karena dia sudah lebih dulu memegang kedua tanganmu dengan erat, membuatku menjadi seorang peri kecil yang terperangkap oleh jeratan-jeratan yang tak bisa dilepaskan oleh siapapun, yang sebenarnya jeratan itu bisa dilepas olehku sendiri.
Aku hanya butuh niat untuk meninggalkan lubang hitam ini, kehidupanku akan normal kembali dan aku tidak usah repot-repot memikirkan hal-hal yang menyakitkan!!! Oh tidak, dari awal niatku sudah banyak untuk meninggalkan semuanya, tapi tetap tak berpengaruh pada pijakan kakiku yang tetap ingin berada disini, di lubang hitam yang kamu buat. Aku butuh seseorang yang dengan tulus hatinya meminjamkan tangannya untuk menarikku keluar yang hingga saat ini tak aku temukan.

ZNTapi aku yakin, kamupun mau memberikan satu tanganmu untukku dan melepaskan genggamannya. Tapi lagi-lagi alasanmu banyak, faktor ini dan itu jadi halangan untuk kita bersama, katamu. Hingga pada akhirnya aku berfikir bahwa kamu itu tidak mau, bukan tidak bisa. Kamu tidak mau berusaha untuk mendapatkanku, kamu tidak mau berjuang untuk bisa bersamaku, kamu tidak mau berkorban untukku sedangkan kamu tau aku telah mengorbankan semuanya demi kamu.
Aku sendiri disini, menunggu sang pemilik lubang hitam datang sesekali untuk sekadar menengok, tanpa menetap. Apa kamu tak memikirkan betapa hancurnya aku ketika kamu kembali untuk dia? Apa kamu tak tau ketika aku benar-benar mati rasa pada apa yang aku pegang? Ketika langkahku semakin tak terasa dan kaki ini seperti terbang tak menapak, hanya karena sebuah pesan masuk "aku pulang dulu". Astagfirullah, sakit sesakit-sakitnya.
Kemarin kamu memintaku untuk berjanji agar aku segera mencari pacar baru, apa kamu tak tau runtuhnya aku ketika mendengar permintaanmu? Kejam, kamu kejam! Apa semenjijikan itukah aku sampai-sampai kamu tak menginginkanku, sampai kamu ingin melihat aku bersama pria lain? Atau memang aku yang terlalu bodoh karena mempunyai harapan yang amat besar terhadapmu?
Pagi ini aku tersadarkan, pantas saja tadi malam kamu tidak ingin aku temani, padahal aku sudah membawa banyak baju ganti untuk beberapa hari ke depan, aku sudah berniat tak akan pulang hanya untuk menemanimu walau sekadar tidur di mobil, aku tak peduli badanku sakit dan besoknya harus tak mandi, yang penting bisa menghabiskan malam bersamamu. Mungkin jawabannya karena kamupun tau dia datang lagi, menghancurkan semua impian-impianku untuk terus bersamamu. Pantas kamupun memintaku untuk mencari penggantimu dan mengucapkan kalimat yang benar-benar menyayat hati "aku ingin kamu mencari pacar agar kamu tak terlalu berharap padaku". Iya, semuanya karena kamu akan kembali padanya, yang setidaknya kamu tak akan terlalu merasa bersalah karena telah memilihnya, dan pertengkaran kita di malam kemarin kamu jadikan sebagai alasan untuk memintaku mencari pacar baru.


Kebahagianku hanya 3 minggu, 22 Desember 2016 sampai 11 Januari 2017. Mulai hari ini, aku yakin akan ada segudang kesedihan datang melandaku. 12 hari berturut-turut aku bersamamu, tak lepas darimu, ditinggal karena keperluanmu untuk beberapa jam kemudian bertemu lagi. Selalu begitu sampai akhirnya aku terbiasa dengan keadaan itu, dan sekarang aku harus tidur lagi di kamarku, menatap langit-langit kamar dan melamunkanmu. Sepi, tak ada lagi dengkuranmu yang membuyarkan keheningan. Tak ada lagi kamu yang terbangun dan menciumiku, mencoba untuk mencumbuiku yang mengantuk, sampai akhirnya kita sama-sama terbangun sampai pagi datang. Aaaaah aku rindu.
Tadi malam aku bermimpi, bermimpi bahwa ayahku meninggal dan semuanya seakan nyata. Nyata sampai-sampai aku bisa merasakan sakitnya ditinggalkan oleh ayahku. Aku ingin bercerita, bercerita padamu. Meskipun hanya via chat, tapi setidaknya aku dapat menceritakan kesedihanku setelah terbangun memimpikan ayahku. Tapi aku tersadarkan kembali, kamu bukanlah pria yang aku kenal dulu, yang selalu siap siaga kapanpun aku membutuhkanmu. Sekarang, kamu membuat sekatan tinggi dan aku tak bisa melewatinya. Aku ingin meruntuhkan dinding itu, dan segera menghampirimu untuk memelukmu tanpa memikirkan dia yang berdiri di belakangmu. Jahat? Iya, aku sangatlah jahat tak pernah memikirkan perasaannya. Tapi bukankah dia jahat juga? Memisahkan kita dengan paksa dan membuatku melamunkanmu semalaman sampai akhirnya tulisan ini dapat kau baca. Ah entah kau ingin membacanya atau tidak, aku tak peduli.
Ah, iya aku ketahuan bohong. Aku tak bisa tak peduli pada apapun tentangmu. Aku berharap kamu membaca tulisanku ini dan menghampiriku, kamupun berkata bahwa kamu akan meninggalkan dia untukku, atau minimal kamu akan meminta izinnya untuk bersamaku. Apa aku sedang berkhayal? Apa khayalanku akan menjadi sebuah impian, yang suatu saat nanti akan menjadi kenyataan? Atau kamu tak akan pernah mengerti dan mengabaikan perasaanku selama ini.
Maaf aku banyak membual, aku hanya merindukanmu, merindukan kita. Kamu yang terlalu acuh, sedangkan aku terlalu butuh.

Tertanda,


Seorang wanita yang menunggumu tanpa merasa lelah.

0 comments:

Post a Comment