JADI ARTIS , TANPA MODAL BAKAT



ZAMAN dahulu kala, butuh bakat dan keterampilan untuk jadi orang tenar alias jadi seleb. Anda harus benar-benar jago dalam satu bidang untuk bisa terkenal. Anda haruslah penyanyi yang bagus, penulis yang hebat, atau aktor dan aktris yang tak cuma tampan dan cantik, tapi juga piawai berakting. Namun, sepertinya, sekarang hal-hal yang membutuhkan bakat dan keahlian mumpuni tak diperlukan lagi untuk jadi orang terkenal.

Dalam sebuah tulisannya menyambut akhir dekade pertama 2000-an kemarin, Raina Kelley di situs Newsweek menulis berkat televisi kabel--yang memungkinkan banyak saluran TV--dan internet terdapat kebutuhan tiada henti atas apa yag disebutnya "content".

Content, tulisnya, adalah semacam isi paket acara yang tujuan utamanya semata-mata menghibur. Lain tidak. Misal, katanya, serial Mad Men atau The Sopranos adalah karya seni di TV, sedang reality show dan kontes bakat adalah content, dibuat sekadar memenuhi tuntutan mengisi jadwal acara TV.

Dalam konteks pertelevisian kita, sinetron Sitti Nurbaya, Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan adalah karya seni TV kita, sedang sinetron stripping dan program musik pagi hari, acara lawak, infotainment, dan berbagai talk show adalah content.

Kebutuhan akan "content" yang tak ada habisnya ini kemudian melahirkan orang-orang yang rela melakukan apa saja demi jadi tenar padahal tak punya bakat dan keterampilan. Di Amerika kemudian muncul seleb yang sejatinya "terkenal lantaran menjadi terkenal" alias "famous for being famous." Kita mengenal Paris Hilton, Nicole Richie, atau Kim Kardashian tanpa kita betul-betul ingat karya mereka yang menunjukkan bakat dan kemampuan terbaik mereka.

Dengan nyinyir, Raina Kelley di situs Newsweek menulis cara jadi seleb tanpa perlu bakat apapun. Di antaranya, tulisnya, untuk jadi seleb cukuplah bila Anda terlahir dari keluarga kaya raya yang memanjakan Anda sejak kecil. Artinya, bukan kekayaan yang diperoleh dengan susah payah macam Bill Gates atau Steve Jobs, tapi kekayaan yang Anda warisi dari orangtua. Dengan begitu Anda sudah berstatus sosialita sejak lahir (Hello Paris Hilton dan Kim Kardashian!).

Cara lain juga, kata Kelley, membuat video seks dan kemudian bilang video seksnya bocor (Hello lagi Paris Hilton dan Kim Kardashian!).

Fenomena serupa pun rupanya bukan hanya terjadi di Amerika saja. Hari-hari ini kian terang benderang kita lihat orang-orang bersliweran yang kita sendiri bingung: "Mereka ini sebetulnya bisa apa, sih? Menyanyi, menari, akting? Kok, mereka tiap hari muncul di TV terus?"

Kita tentu ingat ada seorang penyanyi dangdut yang lama tak terdengar tiba-tiba menikahi janda kaya raya yang ditinggal mati suaminya. Muncul cerita sang suami menitipkan si perempuan padanya sebelum meninggal. Kisah macam begini tentu memikat infotainment dan tabloid. Pertama kita terpikat dengan ceritanya yang bak kisah sinetron. Tapi si pedangdut dan istrinya malah seperti keasyikan diliput media dan muncul di TV. Kita pun melihatnya terus.

Atau tengok cerita yang ini. Pertama-tama kita melihatnya sebagai kasus bekas murid melawan paranormal yang pernah dihormatinya. Si murid, yang kebetulan artis lawas, mengajak korban-korban lain dari si paranormal. Eh yang terjadi salah satu korban meledak amarahnya di depan wartawan. Marahnya lucu pula. Makin lucu setelah ada yang kreatif membuatnya jadi lagu. Maka, yang tadinya jadi korban paranormal malah jadi artis dadakan, diajak main sinetron.

Tengok pula cerita lain lagi. Awalnya adalah kisruh orang lain. Ada artis cewek yang ternyata ditipu tunangannya. Sang tunangan ternyata pembohong, bukan pria kaya seperti yang dibilangnya. Atau cerita lain, ada artis cewek yang rumah tangganya bahkan tak sampai seumur jagung. Si artis cewek memilih tinggal dengan orangtuanya setelah rencana resepsi dibatalkan sepihak.

Dari dua cerita di atas ada satu pola serupa: muncul wanita-wanita dari masa lalu si pria. Mereka umumnya wankita-wanita cantik yang pernah jadi model majalah pria dewasa. Muncul sebagai "korban laki-laki" membuat nama mereka mencuat, laris jadi bintang tamu talk show dan muncul saban hari di infotainment, menceritakan aib masa lalu dari mulai pernah tinggal bareng di satu apartemen hingga pernah hamil dan keguguran.

Lalu ada lagi cara jadi tenar paling mutakhir di jagat hiburan kita: punya kakak yang sudah tenar duluan dan sedang laris-larisnya muncul di TV.

Anda tentu mafhum acara TV kita saat ini isinya melulu lawakan tak jelas, saling ledek dan lempar tepung yang sebetulnya tak lucu. Anehnya memang acara macam begini disukai kebanyakan orang dan dapat rating tinggi. Jadi ya kita disuguhi terus acara model begini.

Lantaran konsep acaranya pun bercanda tanpa juntrungan, berbagai hal pun dilakukan. Gosip settingan disebar. Si pengisi acara B dikatakan sedang pedekate dengan si A. Tak cukup sampai di situ, adik si pengisi acara kemudian diajak juga hadir di acara musik atau lawak kakaknya. Tidak perlu bisa nyanyi atau melawak untuk tampil di situ. Cukuplah ketawa-ketiwi saling ledek. Karena ketawa-ketiwi saja tak cukup kini kita disuguhi adik si A dengan adik si B dikatakan sedang dekat. Penonton TV disuguhi drama kapan si cowok menembak si cewek.

Ya, demikianlah sidang pembaca budiman, sungguh tidak perlu bakat dan keterampilan untuk tenar dengan cara-cara di atas. Mereka tak perlu repot ikutan kontes bakat atau bikin video di YouTube yang unik.

Pemirsa TV tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa pindah channel atau matikan TV saban melihat mereka. Tapi percayalah jagat hiburan punya hukum alamnya sendiri. Seleb dan kasus baru akan selalu berdatangan, membuat kita lupa dengan yang lama.

Masih ingat dengan pria yang tempo hari teriak "DEMI TUHANN!!" sambil gebrak meja? Demi Tuhan, kemana ya dia sekarang?

(ade/ade)

Source : http://id.omg.yahoo.com/news/bagaimana-cara-jadi-artis-tanpa-modal-bakat-dan-050224852.html

0 comments:

Post a Comment